TANTANGAN HUMAS PT TASPEN
Oleh : Jazair Mafaridik
BAB I
Pendahuluan
A. Latar belakang masalah
Kegiatan kehumasan di perusahaan menjadi sebuah keharusan untuk membangun citra perusahaan. Kehumasan dipahami menjadi sebuah senjata ampuh untuk mempengaruhi opini publik terhadap perusahaan, tetapi kendala terbesar dalam perkembangan Kehumasan di Indonesia adalah kesalah pahaman para pembuat keputusan di perusahaan dalam menanggapi kegiatan kehumasan.
Banyak yang berpikir bahwa kehumasan hanyalah identik dengan tugas membuat kliping berita, tukang ketik siaran pers dan Pidato Pimpinan, protokoler , corong perusahaan, tukang potret, membuat media internal, dan lain-lain. Anggapan yang demikian kemudian mengarah pada asumsi bahwa menjadi petugas humas tidak diperlukan keahlian khusus , setiap orang bisa menjadi petugas humas, maka jadilah bagian humas sebagai tempat buangan pegawai yang tidak cocok di bagian lain.
Kesalahan yang lebih mendasar lagi adalah belum ditempatkannya humas dalam struktur organisasi yang memungkinkan baginya untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Kesalahan lainnya adalah dalam kegiatannya masih banyak yang hanya bersifat satu arah kepada publik eksternalnya saja, sedangkan publik internal ( pemilik saham, karyawan ) masih jarang diperhatikan, apalagi dalam bentuk komunikasi dua arah timbal balik masih jarang / sedikit yang dapat melakukannya..
Saat ini perusahaan mempunyai paradigma baru dengan meluncurkan Visi, Misi dan Budaya organisasi yang menjadi komitmen bersama dan menjadi tanggungjawab seluruh komponen perusahaan mulai dari pejabat hingga tingkat karyawan pelaksana, Visi, Misi dan budaya Organisasi tersebut akan terwujud manakala kita bisa memerankan dan menjalankan tugas kita masing-masing secara profesional dengan didasari integritas dan etika yang tinggi.
Disisi lain kita membutuhkan dukungan dari pemerintah agar kita dipercaya untuk mengemban amanah dari masyarakat (stake holder) sebagai salah satu perusahaan yang mampu mengelola Jasa Asuransi yang terpercaya.
Bertolak dari fenomena demikan itulah maka sudah saatnya jika humas Taspen segera berbenah diri, Jika dulu Perusahaan memposisikan diri lebih tinggi dari masyarakat (stake holder), maka harus disadari bahwa konfigurasinya kini telah berubah, Perusahaan dan Masyarkat (stake holder) memiliki posisi yang sejajar.
B. Perumusan masalah
Sejalan dengan perkembangan pengetahuan, wawasan dan kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh stake holder terhadap perusahaan dan upaya untuk meminimalisir gap yang semakin dalam serta adanya keinginan perusahaan untuk meyakinkan dirinya dimana Taspen mampu menjalankan Visinya dan Misinya, maka dibutuhkan adanya media yang dapat menjelas-jelaskan tentang segala kegiatan berikut perkembangannya terhadap publik (stake holder)
Untuk dapat mewujudkan hal tersebut kiranya perlu lebih meningkatkan peran humas di perusahaan yang saat ini masih belum dioptimalkan.
C. Pembatasan Masalah
Asumsi dasar dari karya tulis ini berdasarkan pada pengamatan penulis sendiri yang telah menjalankan fungsi kehumasan selama tiga bulan di PT TASPEN (Persero) Cabang Purwokerto, dalam pengamatan penulis bahwa fungsi humas tidak bisa dilaksanakan secara optimal manakala peran yang diberikan sangat terbatas dan tidak bisa melaksanakan fungsi humas sebagaimana mestinya.
D. Tujuan dan kegunaan Penulisan
-
- Tujuan Penulisan
a) Untuk menganalisa sejauh mana peran humas di PT Taspen (Persero) Cabang Purwokerto
b) Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi humas terhadap perusahaan
-
- Kegunaan Penulisan
a) Bagi Perusahaan
Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh perusahaan dalam penentuan strategi perusahaan
b) Bagi Penulis
Untuk menambah pengetahuan dan latihan dalam menerapkan teori teori yang didapat kedalam praktek di Perusahaan.
E. Hipotesis
-
- Dengan dimasukkannya kehumasan kedalam struktur organisasi secara terpisah dari Bidang Persum akan meningkatkan performa perushaan.
BAB II
Analisa Situasi dan Analisa Persoalan
- Analisa Situasi
Jauh sebelum perang dunia pertama meletus , ada sebuah pameo yang beredar di kalangan kerajaan-kerajan di Eropa , mereka mengatakan bahwa siapa saja yang menguasai lautan, maka dia menguasai dunia. Setelah perang dunia kedua menyebar ke seluruh pemjuru dunia, orang kemudian mengubah orientasi. Pameo baru terkait penguasaan dunia pun muncul. Kali ini, siapayang menguasai minyak dan bahan energilah yang akan menguasai dunia. Hal ini pulalah yang kemudian membuat negara-negara semacam Inggris, Amerika Serikat, Italia dan Rusia berlomba-lomba menguasai ladang-ladang minyak di seluruh dunia. Namun kini ’resep’ untuk menguasai dunia sudah berubah lagi. Sekarang ini, siapa yang menguasai informasi, merekalah yang akan menguasai dunia. Lihatlah bagaimana Amerika menyeret hampir semua negara dalam perang yang digembar-gemborkannya sebagai perang terhadap terorisme. Siapa yang paling berperan memuluskan jalan Amerika untuk membujuk semua Negara agar mematuhi keinginan George W Bush. Tak lain adalah media Amerika mempunyai media-media paling besar di dunia. Mereka memenuhi halaman dan tayangannya dengan kekejaman para teroris yang menimbulkan tangisan, amputasi, kesedihan dan hal-hal lain yang menyentuh perasaan. Buntutnya, simpati dunia pun muncul. Sukarela maupun ’dipaksa’, mereka akhirnya mengikuti sang polisi dunia. Menyatakan perang terhadap terorisme. Dari sini kita bisa melihat, bagaimana peranan media telah ikut mengubah dunia. Bisa menghancurkan, tapi bisa juga menyembuhkan.
- Peran dan Fungsi Humas
Humas memiliki peran yang sangat penting, hal ini sudah banyak diungkapkan oleh presiden , wakil presiden atau menteri dan dirjen setiap kali ada pertemuan badan koordinasi kehumasn di berbagai tempat.
Di tangan Humaslah citra suatu institusi akan ditentukan , apakah akan kelihatan bonafid atau malah justru kelihatan arogan dan tak peduli dengan masyarkat sekitarnya. Sayangnya masih banyak orang menganggap fungsi dan kerja kehumasan itu sebagai hal yang tidak penting. Bahkan ada anggapan yang menyatakan orang yang bekerja di humas adalah orang yang dibuang karena kerap membuat masalah.
Peranan humas di lingkungan pemerintahan sebenarnya sangat penting dalam membangun citra positif bangsa dan negara. Hal ini ditegaskan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) Taufik Effendi dalam Lokakarya Tingkat nasional tentang Revitalisasi Peranan Kehumasan di Lingkungan Instansi Pemerintah, yang diselenggarakan oleh BAKOHUMAS Pemerintah (Dep.Kominfo) dan Kementrian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, di Manado Convention Center, 4-5 Juni 2007. Apalagi dewasa ini pemerintah tengah menghadapi berbagai persoalan kemasyarakatan yang mendasar, yakni peningkatan investasi guna mengurangi kemiskinan dan pengangguran.
Karena itu,pemilihan people (mengacu pada prinsip 6 P yang harus dibenahi dalam suatu lembaga kehumasan yaitu people, proces, practice, product, paln dan publication) yang akan ditempatkan dalam bagian kehumasan harus benar-benar tepat.
Demikian kata Sekjen Departemen Komunikasi dan Informasi RI pada Pembukaan Bimbingan Tekhnik Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Keahlian dan Keterampilan Pejabat Fungsional Pranata Humas di Hotel Pandanaran Semarang, Senin (28/4) lalu pernah mengatakan, person dalam humas harus dipilih yang kredibel dan profesional.
Menurutnya Humas harus dapat membentuk image-image posititf bagi lembaganya. Karena itu humas menurutnya harus mampu meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya.
Bagi saya, kerja seorang humas melebihi seorang wartawan. Karena dia harus bisa mendapatkan berita atau kabar lebih dahulu dari wartawan. Disinilah dituntut perlunya orang yang kredibel untuk melakukan hal itu. Apalagi seorang staf humas tidak cuma melayani media, tetapi juga melayani institusi horizontal dan vertikal yang ada di sebuah lembaga. Karena itu pekerjaannya seharusnya memang lebih berat dari seorang wartawan.
Kesulitan kemudian muncul ketika lembaga-lembaga vertikal dan horizontal di sekitarnya ternyata tak mempunyai kesamaan visi tentang informasi yang harus dibagi. Akibatnya, kadang ada informasi-informasi yang terlambat untuk disampaikan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan fokohumas di Hotel Sahid menyerukan kepada pelaku kehumasan pemerintah untuk selalu menyampaikan kebenaran, merencanakan pembangunan image, menggunakan bahasa yang tepat, menggunakan teknologi informasi dan melakukan evaluasi secara terus menerus.
”Kelima hal tersebut dapat menjadi acuan bagi kehumasan untuk meningkatkan fungsi humas dalam membangun citra positif Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri” kata Presiden pada peresmian pembukaan pertemuan tahunan Badan Koordinasi Kehumasan (Bakorhumas) Pemerintah Kamis kemarin di Hotel Sahid, Denpasar, Bali.
Selain untuk pengembangan kinerja, lima masukan tersebut juga dapat mematangkan proses revitalisasi humas dalam menghadapi pengesahan UU Kebebasan Pemperoleh Informasi.
Presiden mengajak Bakorhumas Pemerintah untuk menyikapi kebebasan dengan moralitas, akhlak, etika, dan berdasarkan hukum yang berlaku. Sehingga setiap kebijakan yang dibuat pemerintah dapat direspon masyarakat dengan turut serta berperan aktif dalam pembangunan.
Dalam pertemuan sejenis, wakil presiden Jusuf Kalla menekankan perlunya perubahan paradigma tentang fungsi dan peranan humas. ”Humas yang modern harus bisa menganalisa berita. Menjelaskan apa, bagaimana, sebab dan rencana ke depan pemerintah atas suatu pemberitaan (issu).
Humas Pemerintah menurut Jusuf Kalla harus memiliki beberapa persyaratan agar menjadi Humas yang handal, antara lain :
1. Harus mampu menguasai masalah, dengan banyak membaca termasuk membaca peraturan perundangan.
2. Diperlukan kecepatan menyelesaikan masalah dan adanya motivasi.
3. Perlu penguatan diri atau peningkatan SDM humas.
4. Mempunyai kredibilitas.
5. Mempunyai hubungan baik denhan media.
Nah, sekarang ini sudahkan orang-orang seperti itu ada di jajaran humas anda? Atau malah jangan-jangan suara sumbang yang mengatakan bahwa humas adalah tempat pembuangan masih berlaku?
Kuasai Informasi, Manfaatkan Media
Seiring dengan makin majunya jaman, humaspun harus bisa berjalan beriringan dan memanfaatkan media, baik media massa maupun media alternatif.
Menjaga hubungan baik dengan orang-orang dari media massa adalah salah satu hal yang harus dilakukan oleh humas. Namun jangan salah mengartikan istilah ’menjaga hubungan baik’ ini dengan melakukan hal-hal yang berada di luar tugas profesional seorang pranata humas.
Bagi seorang wartawan, ketersediaan informasi yang lengkap lebih berarti dibanding misalnya memberikan sesuatu yang berada di luar tugas utamanya. Kadang kesulitan para wartawan dalam mengakses informasi dari pemerintahan atau sebuah lembaga adalah karena kabag humas justru tak tahu menahu ketika sebuah peristiwa terjadi. Sementara pimpinan tertinggi di lembaga tersebut, entah karena alasan birokratis atau memang enggan memberikan tanggapan, sangat susah ditemui.
Image yang muncul kemudian adalah berita yang timpang dan terkesan hanya menjelek-jelekkan sebuah lembaga. Padahal hal ini muncul karena tidak adanya sikap proaktif dari lembaga tersebut, dalam hal ini adalah bagian humasnya.
Selama ini mungkin kebanyakan orang menganggap media massa lebih menyukai berita-berita miring, kebobrokan, kebodohan, kegagalan pemerintah, korupsi, PNS selingkuh dan lain-lain. Orang-orang di lembaga pemerintahan bahkan kerap menganggap media tidak adil karena tak pernah memuat keberhasilan sebuah daerah dan prestasinya. Padahal hal ini tentu tidak akan terjadi jika humas bisa proaktif mewartakan prestasi dan keberhasilan sebuah daerah/lembaga.
Inti utama dari memanfaatkan media massa adalah bagaimana humas bisa memberikan informasi yang memenuhi kriteria news value yang ditetapkan sebuah media. Baik dari segi issue maupun waktu dan pengemasannya.
Jika perlu, pekerjakan orang-orang khusus dengan keahlian khusus di bidang ini